Wednesday, 6 June 2012

pendidikan autisme


by: arifin jamil



ABSTRAK
Pendidikan bermatlamat untuk melahirkan generasi yang seimbang, agar menjadi manusia yang berilmu, beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berahklak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri, memiliki kemampuan berfikir serta menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Justeru matlamat pendidikan diatas perlu di ambil kira kepada peserta didik abnormal atau sering dipanggil ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) seperti anak autism dan asperger. Istilah ABK merupakan terjemahan dari child with special needs yang telah digunapakai secara luas di dunia internasional yang sebelumnya menggunakan istilah difabel (difference ability). Istilah ABK ini lebih menitikberatkan pada kebutuhan anak untuk mencapai kejayaan intelektual sesuai dengan potensinya (Wiguna, 2010). Masyarakat awam lebih mengenal ABK dengan istilah anak cacat, anak berkelainan, anak tuna atau anak luar biasa. Tetapi Alimin (2008) menyebutkan istilah ABK tidak hanya mencakup anak berkelainan atau anak penyandang cacat tetapi juga termasuk anak-anak yang memiliki hambatan perkembangan dan hambatan belajar. Penulisan ini cuba mengkajian sumber-sumer yang sedia ada. Tulisan ini bertujuan untuk mengenal pasti autism dan asperger dan mengetahui bagaiman cara memberi pendidikan Islam kepada mereka. Metode penulisan ini adalah menganalisis suber-sumber yang merujuk kepada buku, jurnal, tulisan-tulisan ilmiyah dan situs-situs yang relevan terhadap tajuk yang sedang dibahas. Dapatan utama dalam kajian ini adalah masih banyak anak autism atau asperger yang belum menerima pendidikan Islam yang sempurna sebagaimana yang diharapkan dalam matlamat pendidikan Islam.








Pengenalan
Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah mereka yang memerlukan penanganan khusus yang berkaitan dengan kekhususannya. Hingga saat ini anak berkebutuhan khusus yang mendapat perhatian yang cukup luas di masyarakat adalah mereka yang tergolong ke dalam pervasive developmental disorder atau autism spectrum disorders (Fadhli, 2010). Alimin (2008) menyebutkan dalam paradigma pendidikan kebutuhan khusus keberagaman anak sangat dihargai. Setiap anak memiliki latar belakang kehidupan budaya dan perkembangan yang berbeza-beza. Oleh kerana itu setiap anak dimungkinkan akan memiliki kebutuhan khusus serta hambatan belajar yang berbeza pula, sebagaimana yang terdpat pada kanak-kanak autism dan asperger. Namun, tiap kanak-kanak autisme atau asperger adalah pemandangan yang sangat unik. Oleh itu kita mesti bekerja dengan kekuatan dan motivasi untuk membantu mereka mencapai kebahagiaan yang lebih besar dan potensi penuh mereka. Secara fizikalnya mereka sama seperti kanak-kanak normal tetapi berbeza daripada segi kelakuan, kerana individu ini (autism atau asperger) suka melakukan sesuatu berulang kali, berputar-putar seperti kipas dan gasing, tidak suka disentuh, susah bekerja sama dan tidak sabar menunggu giliran. Mereka bukan pembawa masalah, sebaliknya kehadiran kanak-kanak autism atau asperger sebenarnya memberi peluang kepada kita untuk berfikir lebih kreatif menjaga dan mendidiknya. Mendidik mereka tentang agama khususnya adalah tugas yang mencabar yang menuntut banyak kesabaran dan kreativiti.
Autisme
Autisme gangguan mental yang mula muncul pada peringkat kanak-kanak yang menyebabkan seseorang berkelakuan tidak normal dan sukar berkomunikasi dengan masyarakat (kamus dewan, 2010). Autisme adalah gangguan tingkah laku yang sangat kompleks dan sangat luas pada anak, dimana penyakit ini merupakan penakit yang berat yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun. Ketika seorang anak didignosa dengan autis, maka hal ini akan memberi impak yang besar bagi sianak, keluarga, sekolah dan masyarakat (Rizki Andriani, 2011). Anak dengan autis sangat sulit untuk diobati dan sangat jarang didengar, seorang autis dapat sembuh (Perko & Mc Laughin, 2002).
Menurut Twiford (1979), kanak-kanak autisme ialah tingkah laku yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan normal anak-anak itu. Penyebab autisme iaitu gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif. Biasanya tingkah laku yang tidak normal itu dapat dilihat dari segi intelek dan pencapaian akademik, penyesuian emosi dan perlakuan social (Liew Siew Yan, 2000). Gejala yang Nampak sangat terlihat pada anak ini adalah sikap anak yang cenderung tidak memperdulikan lingkungan orang-orang di sekitarnya seakan-akan menolak berkomunikasi dan berinteraksi serta hidup dalam dunia sendiri. Anak autistic ini juga mengalmi kesulitan bahasa dan berkomunikasi secara verbal. Selain itu seringkali perilaku stimulasi diri seperti berputar-putar, membentangkan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan sebagainya. Ada berbagai macam gejala autism, sama ada mereka menyakiti diri atau tidak, mereka sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Adakalanya mereka menangis, tertawa atau marah tanpa sebab yang jelas. Ganguan pada anak semacam ini lebih dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
Autism dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membezakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah, sebahagian dari mereka dapat mencapai pendidikan diperguruan tinggi, bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa dibidang tertentu seperti muzik, matematika dan menggambar.
Ciri-ciri anak autism
Kanak-kanak autism mempunyai tingkah laku yang berbeza, diantaranya:
1.      Komunikasi dan bercakap, mereka lambat untuk bercakap dan ada sesetengahnya gagal untuk bercakap.
2.      Kognitif, autism merupakan masalah dalam mental penghidapnya, maka ia turut memberi kesan dalam perkembangan kognitif mereka.
3.      Ganguan emosi, mereka mengalami masalah emosi yang tidak seimbang.
4.      Sikap, kadangkala kanak-kanak ini akan bersikap hiperaktif terutamanya apabila mereka berhadapan dengan suasana yang asing.
Asperger
Asperger adalah sekumpulan anak dan orang dewasa yang memiliki karakteristik kecakapan dan perilaku yang berkelainan ( Lorna Wing, 1981). Pada tahun 1990-an, sidrom asperger dipandang sebagai sebuah varian autisme dan kelainan perkembangan pervasive, yaitu suatu kondisi yang mempengaruhi perkembangan kecakapan dalam rentang yang luas (Hawadi, 2002). Kesulitan anak asperger dalam besosialisasi dapat membuat mereka menjadi sangat setres di sekolah. Banyak kendala yang akan ditemukan pada saat anak asperger memasuki masa remaja untuk menghadapi hal tersebut, orang tua disarankan untuk segera mencari pakar professional untuk melakukan intervensi yang diperlukan sesegera mungkin dengan berterus terang kepada guru atau kepala sekolah dan membawa referensi dari ahli tersebut. Meskipun penderita sidrom asperger seringkali mengalami kesulitan secara sosial, tetapi mereka rata-rata intelek. Mereka munking unggul dalam bidang-bidang seperti pemograman computer dan ilmu pengetahuan. Tidak ada keterlambatan dalam kognitif  kemampuan mereka, pengembangan untuk mengurus diri sendiri, atau rasa ingin tahu tentang lingkungan mereka ( Neil K. Kaneshiro, 2010).
Cirri-ciri asperger
Kanak-kanak asperger juga mempunyai tingkah laku yang berbeza, diantaranya:
  1. Mencari perhatian dengan berbicara keras
  2. Menolak untuk bertatapan mata, tidak mampu berkomunikasi non-verbal atau menggunakan bahasa tubuh
  3. Menunjukkan ketertarikan hanya pada satu atau dua hal saja
  4. Tidak bisa berempati dan tidak peka terhadap perasaan orang lain atau tidak dapat memahami keprihatinan orang lain
  5. Tidak memiliki rasa humor dan tidak mengerti bila orang lain membuat lelucon dan tertawa karenanya
  6. Bahasa tubuh, gerak badannya pada waktu melakukan kegiatan motorik kasar, kaku dan agak aneh dibandingkan anak lain
Samakah autism dengan asperger?
Banyak yang berpendapat bahwa Asperger tidak sama dengan Autis, padahal dalam standard diagnose DSM IV, Asperger adalah merupakan salah satu spectrum autis (Deny, 2008).
Selain ada perbezaan diantara keduannya, sebenarnya ada beberapa ciri dari asperger dan autis yang sama, masing-masing punya ciri-ciri dalam hal ketidak-manpuan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka juga sama-sama menunjukkan beberapa perilaku unik/rutinitas, walaupun dalam degree yang berbeza (varying degree).
Tidak seperti kebanyakan anak autis, anak asperger memang tidak menunjukkan keterlambatan bicara, mempunyai kosa kata yang sangat baik, walaupun agak sulit untuk mengerti bahasa. Mereka pun kebanyakan mempunyai intelek yang cukup baik, bahkan di atas rata-rata. Oleh kerana itu biasanya secara akademik mereka tidak bermasalah dan manpu mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik.
Pendidkan khas
Pendidikan khas yang dimaksud disini iaitu pendidikan agama Islam untuk anak Autism dan Asperger. Kanak-kanak berkebutuhan khas ini adalah mengenai informasi dan kesulitan mendiagnosa para penderitanya. Agar lebih maksimal memang sebaiknya penanganan dilakukan bermula umur masih kecil lagi, sayangnya kesalahan diagnose sering menyebabkan kanak-kanak itu mengalami kemunduran (Eddi Kurnianto, 2009).
Pendidikan Khas di Malaysia
Pendidikan adalah satu keharusan yang mesti diterima oleh semua individu. Setiap anak didik seharusnya mendapat pendidikan yang sempurna bagi meningkatkan potensi diri. seseorang seharusnya mendapat pendiddikan yang sempurna untuk meninggkatkan potensi diri, sama ada anak didik itu normal ataupun tidak normal. Akan tetapi sistem pendidikan yang diterapkan kepada anak normal brbeza dengan pendidikan yang dijalankan kepada anak yang berkeperluan khas. Pendidikan khas adalah pengajaran yang di reka bentuk bagi memenuhi keperluan pendidikan murid dengan keperluan khas. Pendidikan ini di rangcang secara tersendiri, dilaksanakan secara teratur serta dinilai keberkesananya secara teliti bagi membantu murid dengan keperluan khas mencapai tahap berdikari tinggi dan kejayaan hidup yang memuaskan (Jamilah K.A., 2005).
            Perlaksanaan Pendidikan khas di Malaysia berdasarkan falsafah pendidikan khas 1986 yang di keluarkan oleh Kementerian Pendidikan Malaysia, iaitu:
falsafah pendidikan khas ialah untuk menyediakan peluang yang sama kepada kanak-kanak khas seperti yang diberi kepada kanak-kanak biasa untuk perkembangan psikososial yang seimbang. Falsafah ini diselarakan dengan objektif untuk memastikan bahawa keperluan tenaga rakyat dan untuk memastikan bahawa sistem pendidikan itu dapat memenuhi matlamat Negara kearah melahirkan masyarakat yang bersatu padu, berdidsiplin dan terlatih.’
Pendidikan khas di Malaysia berkembang pesat dan telah bermula sejak tahun 1920-an lagi. Menurut Jabatan pendidikan Khas, kementerian pelajaran Malaysia  (2001). Pendidikan khas di Malaysia bermula dengan penubuhan sekolah rendah buta kebangsaan St. Nicholes di Melaka pada tahun 1926, satu lagi sekolah untuk orang buta dibina di pulau pinang pada tahun 193. Pendidikan khas berkembang dalam satu bidang lagi iaitu untuk kanak-kanak pekak dengan pembukaan sekolah kanak-kanak pekak persekutuan di pulau Pinang pada tahun 1957. Pembukaan sekolah kanak-kanak pekak memerlukan guru yang terlatih, maka pada tahun 1963 telah dijalankan latihan perguruan pendidkan khas masalah pendengaran di maktab perguruan ilmu khas.
Penyelarasan pendidikan khas bermula dengan Akta Pelajaran 1961. Bahagian 1 (tafsiran) akta ini di nyatakan bahawa sekolah khas bermakna sekolah yang menyediakan layanan pendidikan yang khas untuk murid-murid yang kurang upaya. Seterusnya pendidikan khas di jelaskan dalam Laporan Jawatan kuasa Kabinet 1978 yang menyebutkan:
Dengan adanya kesedaran bahawa kerajaan seharusnya bertangungjawab terhadap pendidkan kanak-kanak cacat adalah diperlakukan. Kerajaan hendaklah mengambil alih sepenuhnya tanggungjawab penddikan itu dari pihak-pihak persatuan yang mengendalikanya pada masa ini. Di samping itu peryertaan oleh badan-badan sukarela dalam memajukan pendidikan kanak-kanak cacat hendaklah terus digalakkan.
Akta pendidikan 1996 adalah era baru dunia pendidikan khas. Kerana dimasukan didalam Akta tersebut. Didalam tersebut menteri pendidikan dikehendaki membuka kelas pendiddikan khas di sekolah biasa berdasarkan permintaan masyarakat.
Pendidikan Agama bagi Kanak-kanak Autisme
Banyak sangat orang tua atau pendidik yang tidak memahami sifat dan perasaan anak, sehingga mereka menilai anak atau anak didiknya malas, bodoh, pembangkang dan sebagainya. Mereka tidak mengambil kira tentang apa yang dialami oleh sianak, terkadang sianak bukan malas ataupun bodoh, akan tetapi dia tidak tahu apa yang sebenarnya yang kita suruh. Contoh yang paling mudah adalah seandainya seorang ayah menyuruh anaknya membaca bahasa china, dimana anak tersebut tidak mau menbacanya kerena dia tidak boleh membacanya, lalu siayah menganganggap anak itu malas, hingga mengambil tindakan seperti membentak, mengasingkan dan memukulinya. Bagaimanapun hukuman seharusnya sepadan dengan bentuk atau tahap kesalahan serta dilarang memukul bagian muka. Sebagaimana dalam hadist yang artinya: “jika kamu perlu menghukum, hukumlah mengikuti kadar kesalahan yang dilakukannya dan jauhilah daripada memukul muka (HR. ar-Tabrani). Sebenarnya panduan Rasulullah saw itu tersirat dua makna iaitu dari perspektif psikologi dan fisiologi. Ditinjau dari aspek psikologi, pendekatan memberikan kemaafan adalah kaedah berlembah lembut dalam memberikan teguran. Pendekatan ini juga berlaku bagi kanak-kanak yang tempra mental seperti anak autis dan asperger.
Sebaiknya sebelum mereka dihantar kesekolah kanak-kanak ini sudah mendapatkan penanganan dari berbagai ahli seperti: dokter syaraf, dokter specialis anak (Pediatri), Psikologi, Terapi wicara, OT, Fisioterapi, Orthopedagog (Guru khusus) guna member maklum bagi orang tua. Bantuan maklumat dari orang tua, pihak sekolah mudah untuk mengetahui bahawa kanak-kanak autisme dan asperger itu berbeza dengan kanak-kanak yang normal. Hal inilah yang biasanya dapat membantu dalam penyelesaian masalah pada mereka.
Peningkatan pelayanan pendidikan itu diharapkan dapat menampung anak autisme lebih banyak serta meminimalkan problem belajar terutama pada anak-anak autisme (learning problem). Salah satu upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan dan pendidikan anak autisme diperlukan pendidikan integrasi dan implementasinya dalam bentuk group/kelas (sekolah), individu (one on one) serta pembelajaran individual melalui modifikasi perilaku (Agus Tri Haryanto, 2011). Kualitas guru juga sangat mendukung,  selain menjadi seorang pendidik, guru juga menjadi seorang kreator. Kreativitas yang diterapkan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran pendidikan agama Islam adalah dengan menciptakan sebuah model pembelajaran yang dekat dengan keseharian kanak-kanak secara nyata, artinya guru mampu menyesuaikan pelajaran dengan kenyataan yang biasa ditemukan dalam kesehariannya dan disesuaikan dengan tingkat perkambangan mereka. Kreativitas serta aktivitas guru mampu menjadi inspirasi bagi para kanak-kanak sehingga mereka terpacu motivasinya untuk belajar, berkarya dan berkreasi meskipun masih sederhana.
Kurikulum pendidikan Islam Bagi Anak Autism
Pendidikan bagi anak autis tidak sama dengan anak biasa. Kurikulum yang disiapkan tentu juga tidak sama dan sangat individual. Di Indonesia semua hal yang berkaitan dengan pembelajaran untuk kanak-kanak autis berpedoman pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Namun demikian, dinas pendidikan memberikan kebebasan kepada masing-masing sekolah untuk menentukan kurikulum bagi penyandang autis (Eko Djatmiko Sukarso, 2010), ini dikeranakan setiap sekolah memiliki kebutuhan yang berbeza dalam mendidik penyandang autis. Kurikulum autis harus dibuat berbeza-beza untuk setiap individu, mengingat setiap anak yang butuh belajar komunikasi dengan intensif ada yang perlu belajar bagaimana mengurus dirinya sendiri dan ada juga yang hanya perlu fokus pada masalah akademik (Dyah Puspita, 2011). Penentuan kurikulum tiap-tiap anak autis bergantung dari assessment (penilaian) awal yang dilakukan pra sekolah menerima anak autis baru (dini yusuf, 2011). Biasanya, penilaian melalui wawancara terhadap kedua orang tuanya. Wawancara ini untuk mengetahui latar belakang, hambatan dan kondisi lingkungan sosial anak. Selain itu, penilaian awal ini juga melalui observasi langsung terhadap anak. Lamanya penilaian awal ini berbeza-beza, biasanya terapi ini akan digabungkan dengan bermain agar lebih menyenangkan bagi anak autis. Terapi anak autis diatas umur lima tahun lebih kepada pengembangan bina diri agar boleh bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Hal ini mesti kita lakukan kerana mereka sudah waktunya untuk sekolah (Ira Kristiana, 2010).
Jika anak autis yang berumur diatas lima tahun belum boleh berkomunikasi sama sekali, maka harus diberikan pelatihan tambahan yang mengarah kepada peningkatan syaraf motorik sama ada kasar ataupun halus. Bagi yang sudah boleh berkomunikasi, maka langsung ditempatkan disekolah riguler, dengan catatan mereka harus tetap mengikuti pelajaran tambahan disekolah khusus penyandang autis. Penyandang autis di bawah lima tahun diberikan terapi bersepadu seperti terapi perilaku dan wicara. Terapi perilaku bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan, meniru dan akupasi. Terapi wicara di bermula daripada melakukan hal-hal yang sederhana, seperti meniup lilin, tisu, melafazkan huruf abjad dan melafazkan konsonan. Hal yang patut dicermati, adalah konsistensi antara apa yang dilakukan disekolah dengan di rumah. Jika terdapat perbezaan yang mencook, kemajuan anak autis akan sulit dicapai (Ira, 2010). Oleh kerana demikian, diperlukan komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua.
Metode Pendidikan Islam
Memberikan pendidikan Islam kepada anak perlu menggunakan kepelbagaian teknik yang berturusan contohnya dengan memberikan pemahaman jelas, tepat, pengajaran dan peringatan supaya akidah anak bertapak kukuh dalam jiwa mereka, sama ada anak itu normal ataupun autis. Dalam proses pendidikan Islam, metode juga mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam mencapai tujuan.

Dasar metode pendidian Islam
Dalam penerapannya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau sosial peserta didik dan pendidik itu sendiri. Untuk itu pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam. Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga jalan yang di tempuh oleh pendidik haruslah mengacu pada dasar-dasar metode pendidikan tersebut. Ada empat dasar metode pendidikan Islam, diantaranya ialah dasar agamis, biologis, psikologis dan sosiologis (Rayulis dan Syamsul Nizar, 2009).
1.      Dasar agamis, maksudnya bahawa metode yang digunakan dalam pendidikan Islam haruslah berdasarkan agama. Sedang agama Islam merujuk kepada al-Qur’an dan Hadist. Oleh kerana itu, dalam pelaksanaan metode yang di gunapakai oleh pendidik hendaknya di sesuaikan dengan al-Qur’an dan Hadist.
2.      Dasar biologis, perkembangan biologis manusia mempunyai pengaruh dalam perkembangan intelektualnya. Semakin baik perkembangan biologis seseorang, maka dengan sendirinya makin meningkat pula daya intelektualnya. Untuk itu, dalam menggunakan metode pendidikan Islam seorang guru harus memperhatikan perkembangan biolgis peserta didik.
3.      Dasar psikologis, perkembangan dan kondisi psikoogis peserta didik akan memberi pengaruh yang sangat besar terhadap penerimaan nilai pendidikan dan pengetahuan yang di laksanakan. Dalam kondisi labil, pemberian ilmu pengetahuan akan berjalan tidak sesuai dengan yang di harapkan. Kerana demikian metode pendidikan Islam baru dapat diterapkan secara efektif apabila di dasarkan pada perkembangan dan kondisi psikologis peserta didiknya.
4.      Dasar sosilogis, saat pembelajaran berlangsung ada interaksi antara peserta didik dengan peserta didik yang lain dan interaksi antara pendidik dengan peserta didik, atas dasar ini, maka pengguna metode dalam pendidikan Islam harus memperhatikan dasar sosiologis.
Keempat dasar diatas merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus diperhatikan oleh para pengguna metode pendidikan Islam agar tercapainya tujuan pendidikan Islam. Ada banyak metode dalam pendidikan Islam, diantaranya seperti metode ceramah, tanya jawab, diskusi, pemberian tugas, demontrasi, eksperimen, amsal atau perupamaan, targhib dan tarhib dan metode pengulangan (tikrar). Kalaupun metode ini biasa di gunapakai bagi mendidik anak normal, namun metode-metode ini ada yang sesuai dengan anak autis.
Metode cerita
Metode cerita ialah dimana sipendidik menceritakan tentang kisah-kisah dahulu yang berkenaan dengan bahan pelajaran, contohnya apabila seorang pendidik mengajarkan agama Islam, dia lebih banyak bercerita tentang kisah-kisah ilmuan Islam ataupun kisah-kisah lucu dalam Islam. Metode ini lebih di galakkan oleh anak autis maupun asperger.
Metode ceramah
Metode ceramah adalah cara penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. Prinsip dasar metode ini tersebut dalam al-quran:
!$£Jn=sù öNßg8pgUr& #sŒÎ) öNèd tbqäóö7tƒ Îû ÇÚöF{$# ÎŽötóÎ/ Èd,ysø9$# 3 $pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $yJ¯RÎ) öNä3ãŠøót/ #n?tã Nä3Å¡àÿRr& ( yì»tG¨B Ío4quysø9$# $u÷R9$# ( ¢OèO $uZøs9Î) öNä3ãèÅ_ótB Nä3ã¤Îm7t^ãZsù $yJÎ/ óOçFZä. šcqè=yJ÷ès? ÇËÌÈ 
Maksudnya: “Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan ( QS Yunus:23).”
Ayat diatas memberi maklum kepada kita bahawa Allah menyeru kita atau berdakwah kepada kita untuk tidak melakukan kezaliman. Metode ceramah untuk mendidik anak autism atau asperger berbeza dengan metode ceramah yang digunakan kepada anak normal, mungkin si pendidik anak autis ini lebih banyak menggunakan bahan lucah atau nyanyian.
Metode Tanya jawab
Metode Tanya jawab atau konsultasi adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertnyaan kepada murid tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah mereka baca. Prinsip dasar metode ini terdapat dalam hadist Tanya jawab antara jibril dan nabi Muhammad tentang iman, islam dan ihsan. Metode ini lebih sesuai untuk anak autis atau asperger kerana sipendidik dapat maklumat langsung daripada sianak, sehingga mudah bagi meraka untuk mendekatinya.
Metode diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian atau penyampaian bahan pelajaran dimana pendidik memberi kesempatan kepada peserta didik untuk membincangkan dan menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas suatu masalah. Abdurrahman Anahlawi menyebutkan metode ini dengan sebutan hiwar (Ramayulis, 2000). Prinsip dasar metode ini terdapat dalam al-qur’an surat assafat: 20-23 yang bunyinya:
(#qä9$s%ur $uZn=÷ƒuq»tƒ #x»yd ãPöqtƒ ÈûïÏd9$# ÇËÉÈ   #x»yd ãPöqtƒ È@óÁxÿø9$# Ï%©!$# OçGYä. ¾ÏmÎ/ šcqç/Éjs3è? ÇËÊÈ (#rçŽà³ôm$# tûïÏ%©!$# (#qçHs>sß öNßgy_ºurør&ur $tBur (#qçR%x. tbrßç7÷ètƒ ÇËËÈ   `ÏB Èbrߊ «!$# öNèdrß÷d$$sù 4n<Î) ÅÞºuŽÅÀ ËLìÅspgø:$# ÇËÌÈ  
Maksudnya: “ dan mereka berkata: ‘aduhai celakalah kita.” Inilah hari pembalasan. Inilah hari kepetusan yang kamu selalu mendustakannya. Kupulkanlah orang-orang yang zalim dan teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah, maka tunjukkanlah kepada mereka keneraka.”
Ayat diatas menunjukkan bahawa orang-orang kafir membincangkan ataupun mendiskusi tentang kelalaian mereka didunia. Metode ini diskusi juga lebih selesa untuk mengajarkan pendidikan Islam kepada kanak-kanak autis. Pendidik dapat mengumpulkan mereka pada satu tempat dan mangajak mereka untuk manganalisa mainan-mainan ataupun gambar-gambar Islami.
Metode demontrasi
Metode demontrasi adalah suatu cara mengajar dimana guru mempertunjukkan tentang proses sesuatu atau pelaksanaan sesuatu sedang murid memperhatikannya. Metode ini lebih banyak digunapakai oleh pendidik anak autis maupun asperger, kerana mereka (autism) lebih menggalakkan demontrasi melalui pelbagai alat permainan.
Metode eksperimen
Metode eksperimen ialah suatu cara mengajar dengan menyuruh murid melakukan sesuatu percobaan, setiap proses dan hasil percobaan itu damati oleh setiap murid, sedang guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan. Metode ini juga sering digunapakai dalam proses pendidikan anak, lebih-lebih lagi anak yang keterbelakangan mental seperti autis ataupun asperger. Prinsip dasar metode ini terdapat dalam sebuah hadist, dimana Rasulullah saw mengajari sahabatnya untuk melakukan tayammum ketika berhadast dan ketiadaan air (al-Bukhari, I: 129). Sahabat Rasulullah saw melakukan upaya pensucian diri dengan berguling ditanah ketika mereka tidak menemukan air untuk mandi janabat. Pada akhirnya Rasulullah saw memperbaiki eksperimen mereka dengan mencontohkan tata cara bersuci menggunakan debu.
Metode amsal (perumpamaan)
Metode amsal iaitu cara mengajar dimana guru menyampaikan materi pembelajaran melalui contoh atau perumpamaan. Metode ini juga sangat di galakkan oleh kanak-kanak autis maupun asperger. Guru dapat member percontohan dengan melakukan adegan-adegan ataupun melalui permainan-permainan yang lucu. Dengan metode ini, seorang pendidik anak autis dapat dengan mudah mengajari mereka praktek wuduk, shalat dan lainnya sambil bermain. Prinsip dasar metode ini juga terdapat dalam al-quran surat al-baqarah yang bunyinya:
öNßgè=sVtB È@sVyJx. Ï%©!$# ys%öqtGó$# #Y$tR !$£Jn=sù ôNuä!$|Êr& $tB ¼ã&s!öqym |=ydsŒ ª!$# öNÏdÍqãZÎ/ öNßgx.ts?ur Îû ;M»yJè=àß žw tbrçŽÅÇö6ムÇÊÐÈ  
Maksudnya: “perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api.  Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat (QS al-baqarah: 17).”
Perumpamaan Allah yang terdapat dalam ayat diatas sebagai satu metode pembelajaran untuk meberikan pemahaman kepada kita agar dapat memahami dengan baik. Metode ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain atau mendekatkan sesuatu yang abtrak dengan yang lebih konkrit.
Metode targhib dan tarhib
Metode targhib dan tarhib yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajaran dengan menggunakan ganjaran terhadap kebajikan dan hukuman terhadap keburukan agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Metode ini juga sangat selesa dengan kondisi anak autis, mereka termotivasi dan belajar sungguh-sungguh kerana mengingat hadiah yang dijanjian guru. Pendidik juga boleh menggalakkan mereka untuk belajar dengan menjanjikan permen, ais krem dan sejenisnya yang disukai.
Metode pengulangan (tikrar)
Metode tikrar yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi ajar dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut dengan harapan siswa dapat mengingat lebih lama materi yang disampaikan. Metode ini lebih membantu bagi anak autis untuk mengingat materi. Biasanya sekolah pendidikan autis telah menbuat jadual disetiap harinya yang mana jadual tersebut merupakan satu proses pengulangan. Satu proses yang penting dalam pembelajaran adalah pengulangan, latihan atau praktek yang di ulang-ulang. Sama ada latihan mental iaitu seseorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu maupaun latihan motorik iaitu melakukan latihan secara nyata merupakan alat bantu ingatan yang penting. Proses pengulangan juga dipengaruhi oleh taraf perkembangan seseorang. Kemampuan melukiskan tingkah laku dan kecakapan membuat model menjadi kode verbal atau visual mempermudah pengulangan. Metode pengulangan telah di lakukan oleh Rasulullah saw dahulu lagi ketika menjelaskan sesuatu yang penting untuk di ingat para sahabat.

Kesimpulan
Autisme adalah gangguan tingkah laku yang sangat kompleks dan sangat luas pada anak, dimana penyakit ini merupakan penakit yang berat yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun. Gangguan Asperger merupakan salah satu gangguan autism. Gangguan ini ditandai dengan adanya kesulitan dalam menjalin relasi, sosial yang timbal balik, serta perilaku dan minat terbatas. Selain ada perbezaan diantara keduannya, sebenarnya ada beberapa ciri dari asperger dan autis yang sama, masing-masing punya ciri-ciri dalam hal ketidakmanpuan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi.






Bibliografi
Baker, Bruce L. and Alan J. Brightman, Steps to Independence – Teaching Everyday Skills to Children with Special Needs, 1997, Paul H. Brookes Publishing Co. Inc, Baltimore, US
Greenspan, Stanley, MD and Serena Wieder, PhD, 1998; The Child with Special Needs, Perseus Publishing, US
Hodgdon, Linda A. MEd, CCC-SLP, Solving Behavior Problems in Autism – Improving Communication with Visual Strategies, 1999, Quick Roberts Publishing, Michigan-US.
Holmes, David L. Ed.D, 1997; Autism through the Life Span, The Eden Model; Woodbine, USA
Dewan Bahasa dan Pustaka, Kamus Dewan edisi ketiga, Kuala Lumpur, 1994.
Liew, S Y, Peranan organisasi dan kehidupan kanak-kanak autism di wilayah persekutuan dan Selangor, thesis UM, 2000.
Rizki Andriani, 2011, Thesis: Penyesuaian Diri Orang Tua Yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus.
Twiford, R., 1979, A Child With A Problem; A Guide To The Psychological Disorder Of Children, New Jersey, Prentice-Hall, Inc.
Zasmani Shafiee, Pendidikan Autism: Cabaran Masakini (Austistic Education: Challenges Today), seminar kebangsaan, Bangi, 1990.

No comments:

Post a Comment